Ibu dan Bahasa Pertama: Membangun Peradaban yang Lebih Manusiawi

OLEH: Andi Arif Pamessangi (Dosen Bahasa Arab UIN Palopo)

PERINGATAN Hari Ibu sejatinya bukan hanya seremoni tahunan, melainkan ruang refleksi tentang peran fundamental ibu dalam membangun manusia dan peradaban. Dalam perspektif bahasa dan komunikasi, ibu adalah sumber komunikasi pertama—pendidik awal yang memperkenalkan manusia pada makna, emosi, dan nilai kehidupan jauh sebelum institusi pendidikan formal hadir.

Dalam khazanah Bahasa Arab, ibu disebut al-umm, sebuah kata yang memiliki akar makna sebagai asal, pusat, dan fondasi. Dari akar kata yang sama lahir istilah umm al-kitāb (induk kitab) dan umm al-qurā (kota induk). Secara linguistik, ini menunjukkan bahwa ibu bukan sekadar figur biologis, melainkan pusat pembentukan makna dan arah kehidupan. Bahasa Arab dengan kekayaan semantiknya memberi penegasan bahwa peran ibu bersifat struktural dan esensial.

Dari sudut pandang ilmu komunikasi, ibu adalah komunikator afektif paling efektif. Ia menguasai komunikasi interpersonal secara alami: intonasi yang menenangkan, pilihan kata yang membangun rasa aman, serta bahasa nonverbal yang sarat empati. Proses ini membentuk pola komunikasi anak, memengaruhi cara berpikir, berbahasa, dan bersikap di ruang sosial. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kualitas komunikasi publik suatu masyarakat sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi keibuan di ruang domestik.

Al-Qur’an sendiri menggambarkan relasi ibu dan anak dengan bahasa yang sangat komunikatif dan emosional. Penggunaan ungkapan tentang kehamilan, perjuangan, dan pengorbanan ibu tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga persuasif—menggerakkan kesadaran moral manusia untuk menghormati dan berbuat baik kepada orang tua. Ini menunjukkan bahwa bahasa religius dalam Islam bekerja melalui pendekatan komunikasi yang humanis, bukan koersif.

Di tengah era digital yang ditandai oleh banjir informasi dan komunikasi instan, nilai komunikasi keibuan menjadi semakin relevan. Media sosial sering kali melahirkan bahasa yang keras, reaktif, dan miskin empati. Di sinilah kita perlu belajar kembali dari komunikasi ibu: bahasa yang santun, jelas, dan berorientasi pada kebaikan relasi. Integrasi nilai-nilai ini ke dalam pembelajaran Bahasa Arab dan komunikasi menjadi kebutuhan mendesak agar bahasa tidak kehilangan ruh kemanusiaannya.

Bagi dunia akademik, khususnya di perguruan tinggi, Hari Ibu dapat dimaknai sebagai ajakan untuk merekonstruksi pendekatan pembelajaran bahasa yang lebih komunikatif, kontekstual, dan beretika. Bahasa Arab tidak cukup diajarkan sebagai sistem gramatika, tetapi sebagai sarana membangun kesadaran sosial dan moral, sebagaimana ibu mengajarkan bahasa kehidupan kepada anaknya.

Akhirnya, Hari Ibu mengingatkan kita bahwa komunikasi terbaik lahir dari ketulusan dan kasih sayang. Dari ibu, kita belajar bahwa kata-kata bukan sekadar bunyi, melainkan amanah. Dan dari bahasa, kita membangun peradaban yang lebih manusiawi.(*/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!