Sagu di Palopo Terancam ‘Degradasi’, Ini Penjelasan Dispertan
PALOPO,INDEKSMEDIA.ID – Sagu, merupakan salah satu makanan khas termasuk kebutuhan pokok masyarakat Kota Palopo, khususnya di Sulawesi Selatan (Sulsel). Manfaatnya banyak, selain mengandung berprotein untuk kesehatan tubuh, pengolahannya pun bisa beraneka ragam.
Yang sering diolah masyarakat Kota Palopo seperti, ‘kapurung’, dange’ dan berbagai macam kebutuhan makanan lainnya. Hanya saja, tanaman tersebut diklaim terancam Degradasi. Itu menyusul, banyaknya kegiatan pengalihan lahan sagu ke lahan untuk tanaman lain, seperti cokelat, padi dan lain-lain.
Degradasi sendiri merupakan kemunduran, kemerosotan atau penurunan kualitas yang bisa terjadi pada bidang seperti lingkungan, moral, atau perangkat, termasuk di sektor pertanian.
Minyikapi hal itu, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertan) Kota Palopo, dalam hal ini Kepala Bidang (Kabid) Perkebunan, Buana Rahman mengatakan untuk tanaman sagu di Palopo pihaknya tidak pernah ada permintaan bibit dari pertani.
Hanya saja, Dispertan Palopo tetap mengusulkan pengadaan bibit sagu ke Kementerian sebagai bentuk perhatian serius atas keberlangsungan budidaya tanaman tersebut di Kota Palopo.
“Memang tidak ada pengadaan bibit, karena kami yang turun ke lapangan untuk meminta apa keiinginan petani khususnya petani sagu. Namun, rata-rata yang kami peroleh, mereka butuh peralatan untuk mengolah sagu (pa’sambe). Mereka tidak ingin bibit tapi peralatannya,” kata Buana Rahman, menyikapi adanya informasi terkait tanaman sagu nyaris punah di Kota Palopo, Selasa (11/11/2025).
Dijelaskannya, sagu memiliki kandungan protein yang sangat rendah, berkisar antara (0,2) hingga (0,6) gram per (100) gramnya. Sagu utamanya adalah sumber karbohidrat, sehingga proteinnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Untuk melengkapi kebutuhan protein, sebaiknya sagu dikonsumsi bersama sumber protein lain seperti ikan, telur, atau daging.
“Namun, khasiatnya cukup bagus untuk dikonsumsi karena baik untuk kesehatan,” imbuhnya.
Buana Rahman, menambahkan di Kota Palopo, hanya di Kecamatan Telluwanua yang terbesar dalam hal pengolahan tanaman sagu. Selebihnya, hanya ada satu wilayah yakni di Kecamatan Wara Barat Palopo.
“Tanaman sagu ini, seperti umbi-umbian, jadi ditebang satu, masih ada anakannya yang berkembang dan tidak akan ada habisnya. Nah, kembali lagi, ketika ada kegiatan pengalihan lahan, disitu biasanya tanaman sagu dipunahkan,” pungkasnya.




Tinggalkan Balasan