Jurnalisme Sensasi: Ketika Organisasi Dijadikan Clickbait untuk Kasus Personal
Opini – Syafaat, Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
PALOPO, INDEKSMEDIA.ID – Sebagai kader yang mencintai organisasi, saya merasa sangat miris bahkan marah melihat betapa cerobohnya sejumlah media dalam memberitakan kasus pengeroyokan di Cafe Up Street, Palopo. Bukan pada faktanya, tapi pada framing yang digunakan: dengan mudahnya menyeret nama organisasi untuk kasus yang jelas-jelas murni urusan personal.
Mari kita tegas dari awal: Kekerasan tidak dapat dibenarkan. Titik. Korban berhak mendapat keadilan. Namun, keadilan juga berarti tidak sembarangan menghakimi dan tidak sembarangan menyeret pihak yang tidak ada hubungannya dengan kejadian.
Logika Absurd Media: Personal Jadi Organisasional
Coba kita bedah kronologi dengan kepala jernih:
Lokasi kejadian: Kafe komersial, bukan sekretariat organisasi.
Waktu kejadian: Minggu pukul 00.15 Wita, bukan waktu kegiatan organisasi.
Aktivitas saat kejadian: Nongkrong sambil minum minuman keras dan menikmati live music, apakah ini kegiatan organisasi?
Pemicu konflik: Seorang perempuan mendekati salah satu pihak, lalu terjadi perselisihan personal.
Motif: Perselisihan personal yang berujung emosi dan kekerasan.
Sekarang pertanyaan fundamentalnya: DI MANA RELEVANSI ORGANISASINYA?
Tidak ada agenda organisasi. Tidak ada instruksi organisasi. Tidak ada kegiatan organisasi. Tidak ada bendera organisasi. Bahkan tidak ada kaos organisasi!
Lalu mengapa MENGAPA nama organisasi harus muncul di judul berita? Mengapa afiliasi itu lebih penting daripada fakta bahwa ini murni perselisihan personal di tempat hiburan malam?
Standar Ganda yang Hipokrit
Mari kita uji konsistensi media dengan skenario lain:
Jika seorang anggota DPR mabuk dan berkelahi di kafe, apakah judulnya: “Anggota DPR Mabuk Keroyok Pengunjung Kafe”? Tidak. Judulnya pasti: “Perkelahian di Kafe Libatkan Oknum Pejabat.”
Jika seorang pengusaha tersangkut kasus serupa, apakah judulnya: “Anggota Kadin Terlibat Pengeroyokan”? Tidak.
Jika seorang jurnalis melakukan hal serupa, apakah judulnya: “Wartawan Media X Lakukan Penganiayaan”? Pasti tidak, bahkan mungkin tidak diberitakan sama sekali atas nama “solidaritas profesi.”
Tapi kenapa untuk organisasi kemahasiswaan dan kemasyarakatan, standarnya berbeda? Kenapa begitu mudah menjadikan organisasi sebagai bumbu sensasi?
Jawabannya sederhana: karena mudah, karena menjual, karena tidak ada risikonya. Media tahu organisasi tidak akan menuntut. Media tahu mahasiswa tidak punya power ekonomi untuk menekan. Jadi silakan saja dijadikan clickbait.
Ini Bukan Jurnalisme, Ini Fitnah Terstruktur
AKP Supriadi sudah jelas menyatakan: “Kami belum dapat memastikan kebenaran hal tersebut karena masih dalam proses penyelidikan.”
Belum pasti. Belum terverifikasi. Masih dugaan. Tapi media sudah eksekusi organisasi di ruang publik.
Ini bukan lagi soal liputan yang tidak berimbang. Ini adalah pembunuhan karakter sistematis terhadap sebuah institusi yang tidak bersalah.
Dan yang lebih ironis: media yang sama ini sering berkampanye soal “anti-hoaks”, “verifikasi sebelum berbagi”, “jurnalisme berkualitas”. Kemana prinsip itu ketika organisasi kemahasiswaan jadi sasaran?
Pesan Tegas untuk Media
Kepada media yang telah menyiarkan berita dengan framing organisasi:
SATU: Afiliasi organisasi seseorang adalah TIDAK RELEVAN untuk kasus personal di luar konteks organisasi. Berhentilah menggunakannya sebagai clickbait.
DUA: Ada jutaan anggota dan alumni organisasi di Indonesia yang reputasinya ikut tercoreng karena framing tidak bertanggung jawab kalian. Mereka adalah dokter, guru, pengacara, pengusaha, pegawai negeri yang bekerja keras membangun bangsa. Apakah adil bagi mereka?
TIGA: Jika kalian punya bukti bahwa kejadian ini ada kaitannya dengan aktivitas organisasi, silakan publikasikan. Jika tidak ada, CABUT framing organisasi dari berita kalian dan minta maaf.
EMPAT: Jangan sembunyi di balik dalih “kami hanya melaporkan fakta.” Memilih fakta mana yang ditonjolkan adalah pilihan editorial, dan pilihan itu mencerminkan integritas kalian.
Kepada Publik: Jangan Jadi Korban Manipulasi Narasi
Pembaca yang budiman, kalian lebih cerdas dari yang media kira. Gunakan akal sehat:
- Jika seorang pegawai bank mabuk dan berkelahi di kafe hari Minggu, apakah itu representasi banknya? Tidak.
- Jika seorang anggota partai terlibat perkelahian personal, apakah itu agenda partainya? Tidak.
- Jika seorang alumni universitas melakukan tindak pidana, apakah itu salah universitasnya? Tidak.
Maka mengapa untuk organisasi kemahasiswaan logika berbeda diterapkan?
Jangan biarkan framing media membentuk prasangka kalian. Pisahkan tindakan personal dari institusi. Ini prinsip dasar keadilan yang berlaku untuk semua, tanpa pandang bulu.
Kepada Organisasi Tercinta
Kepada organisasi yang telah menjadi rumah bagi jutaan pemuda idealis di republik ini:
Jangan biarkan ujian ini melemahkan. Tetaplah suci dalam misi kalian. Ribuan kader baik di luar sana terus mengabdi dengan tulus, dan tidak ada satu berita sensasional pun yang bisa menghapus kontribusi nyata kalian bagi bangsa.
Tapi kita juga tidak boleh diam. Saatnya kita bersikap tegas: Tindakan personal adalah tanggung jawab personal. Organisasi tidak akan menanggung dosa individu yang bertindak di luar koridor organisasi.
Penutup: Keadilan untuk Semua
Saya tutup dengan penegasan:
- Untuk korban:
Semoga cepat pulih dan dapatkan keadilan penuh melalui proses hukum. - Untuk pelaku (jika terbukti):
Bertanggung jawablah sebagai INDIVIDU atas perbuatanmu. Jangan sembunyi di balik organisasi, tapi juga jangan biarkan organisasi ikut dipersalahkan. - Untuk media: Introspeksi. Tanya diri kalian: apakah kalian sedang menjalankan jurnalisme atau sedang berjualan sensasi murahan
- Untuk publik:
Berpikirlah kritis. Jangan mudah termakan framing.
Dan satu pesan terakhir untuk media yang budiman: Organisasi kemahasiswaan bukan properti publik yang bisa kalian eksploitasi untuk rating. Kami adalah institusi yang lahir dari idealisme, dibesarkan oleh pengabdian, dan dijaga oleh jutaan anak bangsa yang lebih memilih berkontribusi daripada sekadar menonton.
Hormatilah kami seperti kalian ingin profesi kalian dihormati.
Penulis adalah Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), menulis dengan penuh tanggung jawab pribadi dan kecintaan pada organisasi
Disclaimer: Tulisan ini merupakan kritik terhadap praktik framing media dan bukan pembelaan terhadap tindak kekerasan atau pelaku. Penulis sepenuhnya mendukung proses hukum yang adil bagi semua pihak.





Tinggalkan Balasan