Kisah Julaibib, Sahabat Nabi Muhammad SAW yang Buruk Rupa Menikah Dengan Gadis Cantik

Ilustrasi sahabat Nabi Muhammad SAW.

INDEKSMEDIA.ID – Ada yang pernah mendengar nama Julaibib? sosok sahabat yang membersamai Rasulullah SAW dalam perjalanan dakwahnya. Julaibib merupakan sosok yang dikenal dengan wajahnya yang buruk, tubuh yang pendek dan bungkuk, kulit hitam, hidup miskin dan tidak jelas akan sanad keluarganya.

Namun dibalik kekurangannya, Julaibib merupakan seorang sahabat yang sangan dicintai Rasullah SAW. Hingga suatu saat, Julaibib akhirnya dinikahkan dengan seorang wanita cantik dan salihah, hal membuktikan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak diukur dari rupa maupun harta.

Kisah Rasulullah SAW menihkan Julaibin yang hidup dengan keminderan:

Dalam buku 99 Asmaul Husna Kisah dan Mukjizat karya Chris Oetoyo, dikisahkan bahwa penampilan dan keseharian Julaibib membuat banyak orang enggan mendekatinya.

Fisiknya yang tampak memprihatinkan, wajah yang tidak sedap dipandang, tubuh yang pendek dan bungkuk, kulitnya yang gelap, serta kehidupannya yang penuh kemiskinan seolah semakin mengasingkannya. Kain usang dan pakaian lusuh yang menempel di tubuhnya setiap saat menjadi saksi bisu betapa berat hari-hari dijalani Juaibib.

Dikisahkan, suatu ketika saat Julaibib tengah berad di Masjid Nabawi, Rasulullah SAW datang menghampirinya dan dengan suara penuh kelembutan menaninya Julaibib, “Julaibib, tidakkah engkau ingin menikah?”

Pertanyaan lembut tersebut seakan menentramkan hati dan jiwa Julaibib yang telah lama sepi. Dengan senyum yang tulus dan malu Julaibib menjawab, “Siapakah yang akan sudi menikahkan putrinya denganku, wahai Rasulullah?

Tak ada nada putus asa ataupun keluhan dalam ucapannya, hanya ketundukan yang penuh keikhlasan kepada takdir. Pada hari-hari berikutnya, Julaibib kembali bertemu dengan Rasulullah SAW di Masjid Nabawi.

Masih dengan nada yang lembut, Nabi bertanya, “Julaibib, tidakkah engkau ingin menikah?” Pertanyaan itu diulang selama tiga hari berturut-turut dan setiap kali pula Julaibib menjawab dengan senyuman pasrah yang penuh keikhlasan.

Di hari ketiga, Rasulullah SAW secara tiba-tiba menggenggam tangan Julaibib dan membawanya ke rumah seorang tokoh Anshar.

Setibanya di sana, Nabi menyampaikan maksud kedatangannya, “Aku ingin menikahkan putri kalian.” Mendengar hal itu, sang tuan rumah berseri-seri penuh suka cita, mengira bahwa Rasulullah sendiri yang akan menjadi menantunya.

“Alangkah indah dan berkahnya ini,” ucapnya penuh harap. Namun, kegembiraan itu seketika berubah saat Rasulullah melanjutkan, “Bukan untukku. Aku hendak meminang putri kalian untuk Julaibib.”

Sang ayah terperangah dan hampir tak percaya, begitu pula istrinya yang kemudian menolak tegas.

“Bagaimana mungkin? Dengan Julaibib?” seru mereka, mengingat keadaan Julaibib yang tanpa nasab, miskin, dan berwajah lacak.

Namun dari balik tirai, sang putri cantik yang mendengar semua perbincangan itu angkat suara dengan keteguhan hati, “Siapa yang memintanya?”

Saat mengetahui bahwa yang memintanya adalah Rasulullah SAW, si gadis dengan penuh keyakinan berkata, “Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, aku menerima.”

Rasulullah SAW pun memanjatkan doa untuknya dengan penuh kasih, “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan yang penuh berkah atas dirinya, dan jangan Engkau timpakan kesusahan dalam hidupnya.”

Pernikahan pun dilangsungkan antara Julaibib yang sederhana dan gadis cantik Madinah itu. Cinta di antara mereka bukanlah karena rupa atau harta, melainkan karena ketaatan mereka kepada Rasulullah SAW, di bawah naungan cinta kepada Allah dan utusan-Nya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!