Mengayuh Harapan di Tengah Terik: Kisah Tukang Becak di Bulan Suci Ramadhan

PALOPO INDEKSMEDIA.ID — Di tengah hiruk pikuk kehidupan kota yang terus berkembang, masih ada sosok-sosok tangguh yang tetap setia menjalani profesi sederhana namun penuh makna. Dua di antaranya adalah Pabo dan Junaedi, tukang becak yang telah puluhan tahun mengayuh roda demi roda demi memenuhi kebutuhan hidup. Di bulan suci Ramadhan ini, perjuangan mereka menjadi cermin keteguhan dan kesabaran yang patut diapresiasi.

Wawancara yang dilakukan pada Sabtu (8/3/2025) oleh Mahasiswa/i semester 6 Kelas C, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Institut Agama Islam Negeri Palopo yang diketuai oleh Baso Firwansyah dengan pewawancara Albiana serta penulis Abd Khafidz T Rahman, Dinda Ramadhani, Delila, dan Andillah, mengungkap sisi lain dari kehidupan para tukang becak yang kerap terabaikan.

Pak Abo, pria berusia 63 tahun, telah menjadi tukang becak sejak usia 10 tahun. Baginya, pekerjaan ini bukan hanya soal mencari nafkah, tapi juga menjadi sarana berinteraksi sosial dan menikmati keindahan Kota Palopo.

“Saya suka bekerja sebagai tukang becak. Saya bisa berinteraksi dengan banyak orang dan melihat keindahan kota,” tuturnya sambil tersenyum.

Walau hidup seorang diri tanpa keluarga, Pak Pabo tetap semangat. Di bulan Ramadhan, ia merasa lebih dekat dengan Tuhan dan belajar banyak tentang kesabaran, kejujuran, serta kepedulian. Penghasilannya berkisar antara Rp30.000 hingga Rp50.000 per hari, meskipun tak menentu. Namun, semangatnya tak pernah padam.

“Kalau capek saya istirahat sejenak di becak, tunggu matahari agak redup. Saya juga pakai topi biar tidak terlalu kepanasan,” ungkapnya.

Harapan Pak Pabo sederhana, “Semoga saya bisa terus sehat dan bisa terus berbuat baik di tengah keterbatasan.”

Di sisi lain, Pak Junaedi, 67 tahun, juga telah lebih dari 30 tahun mengayuh becak. Becak, baginya, bukan sekadar alat kerja, tapi bagian dari hidup yang tak terpisahkan.

“Becak ini sudah menjadi bagian hidup saya. Selain itu, saya juga harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup,” ujarnya.

Meski zaman berubah dan transportasi online mulai mendominasi, Pak Junaedi tetap optimis. “Saya yakin masih ada orang yang membutuhkan becak, terutama pelanggan setia saya,” katanya.

Setiap pagi, dari rumah sederhananya di pinggiran kota, ia memulai hari dengan semangat. Ia menjaga kesehatannya dengan istirahat cukup, makan sederhana, dan tetap aktif bekerja.

Saat ditanya pesan untuk generasi muda, ia menegaskan, “Jangan malu bekerja keras, apapun pekerjaannya. Yang penting halal dan bermanfaat.” (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!