Masyarakat Adat Bolu Bara’ba’ Desak PT. Tiara Tirta Energi Selesaikan Pembayaran Lahan dan Penghentian Aktivitas PLTM

Masyarakat Adat Bolu Bara’ba’ bersama warga sekitar lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM)

INDEKSMEDIA.ID – Masyarakat Adat Bolu Bara’ba’ bersama warga sekitar lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) oleh PT. Tiara Tirta Energi menyatakan sikap tegas terhadap perusahaan yang dinilai telah mengingkari janji serta melanggar hak-hak masyarakat adat.

Dalam pernyataan tertulis yang ditandatangani Kuasa Rumpun, Matius Kombo, masyarakat mengajukan sembilan tuntutan utama kepada perusahaan.

Salah satu poin krusial adalah desakan agar PT. Tiara Tirta Energi segera melunasi pembayaran lahan yang hingga kini belum dituntaskan.

Warga menegaskan bahwa segala bentuk aktivitas perusahaan di atas lahan adat yang belum dibayar harus dihentikan.

“Perusahaan tidak bisa seenaknya melakukan kegiatan di atas tanah adat tanpa menyelesaikan kewajibannya. Ini bentuk pelanggaran hak dan penghinaan terhadap masyarakat adat,” tegas Matius Kombo, Kamis (10/4/2025).

Tak hanya soal lahan, masyarakat juga kecewa terhadap janji perbaikan jalan di wilayah Lange Tabang yang hingga kini belum direalisasikan.

Selain itu, aktivitas penggalian batu dari sungai turut menjadi sorotan karena diduga dilakukan tanpa izin resmi dari instansi berwenang.

“Ini bukan sekadar proyek pembangunan. Ini tentang hak hidup, martabat, dan keadilan bagi masyarakat adat yang telah menjaga tanahnya selama ratusan tahun,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat yang enggan disebutkan namanya.

Dalam pernyataan sikapnya, masyarakat juga menuntut pelibatan mereka dalam pengelolaan sumber daya lokal seperti pasir, serta meminta transparansi dalam kesempatan kerja yang seharusnya bisa dinikmati oleh warga sekitar secara adil.

Penolakan keras disampaikan terhadap dugaan praktik adu domba antarwarga yang dilakukan perusahaan demi melancarkan proyek.

Warga menyatakan kekecewaan mendalam terhadap upaya perusahaan yang dianggap hanya membawa perpecahan dan kerusakan sosial di tengah masyarakat.

“Cukup sudah perusahaan datang hanya untuk merusak, mengadu domba, dan meninggalkan luka. Kami ingin pembangunan yang berpihak pada rakyat, bukan yang menindas,” lanjut warga.

Hingga berita ini diturunkan, pihak PT. Tiara Tirta Energi belum memberikan tanggapan resmi atas tuntutan masyarakat adat, namun tim media telah mencoba mengkonfirmasi namun belum memberikan tanggapan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!