Retaknya Akal Sehat

Gie

OPINI, INDEKS MEDIA – Harapan terlihat suram, kehidupan yang tak terarah. Langkah kaki yang berloba-lomba pada kesemuan bahagia. Makna perjalanan hidup yang tak terdefinisi dengan jelas. Begitulah problematika kehidupan manusia yang jarang terbaca oleh kesadaran.

Kesadaran yang berpura-pura tak mengenal pada hakikat perjalanan hidup. Keegoan hati yang tak runtuh tertunduk pada rahmat-Nya, beridiri kokoh untuk membentengi cahaya yang mencoba mengikisnya.

Manusia adalah simbol kebebasan pada suatu dimensi kehidupan. Namun, sangat mudah menjadi budak dari objek yang penuh kesemuan. Entah itu kehormatan, uang, jabatan, pujian dan pengakuan. Rasa haus yang tak pernah pudar menggorogoti jiwa, meski seluruh air lautan menjadi kompensasi, tidak akan mampu mehilangkan dahaganya.

Cita-cita yang jauh dari tujuan hidup sesungguhnya, menjadikan akal tidak memiliki logika kebenaran yang sistematis. Kesalahan-kesalahan berpikir sering tergambar pada gagasan yang tidak berlogika benar.

Baik dan buruk menjadi penyamaran yang sering digunakan dalam konsep benar dan salah. Manusia seringkali membalut suatu konsep dengan dasar baik atau buruknya sesuatu untuk menentukan benar dan salah. Sehingga kebenaran ataupun kesalahan tidak menemukan hakikat definisi yang semestinya.

Tidak semua yang terlihat baik itu benar, dan tidak semua yang terlihat buruk adalah salah. Karena baik dan buruk itu merupakan penilaian subjektifitas yang bersifat abstrak, sedangkan benar dan salah itu bersifat pasti. Seuatu yang benar tidak mungkin bersifat salah pada waktu yang bersamaan. Sedangkan baik atau buruk bisa saja terjadi pada saat bersamaan karena bergantung pada penilaian subjek.

Kegagalan manusia dalam menilai kehidupan, akan berdampak pada cara ia menjalani sebuah kehidupan. Keputusan, keraguan, khawatir dan ketakutan merupakan problem yang muncul akibat kegagalan tersebut.

Pemuda-pemudi yang merupakan harta karun manusia, menjadi kacau karena tidak tertanamnya dengan baik logika berpikir yang benar. Kesalahan mendidik menjadi unsur utama yang bertanggung jawab atas hal tersebut. Kelalaian pendidikan yang sering terjadi adalah pemikira-pemikiran orang tua yang hanya fokus pada ilmu pengetahuan umum.

Kesuksesan yang ditanamkan sejak dini ialah beroriantasi pada nilai atau angka. Sehingga kararkter yang tumbuh akan selalu beroriantasi pada hal tersebut pula. Sangat jarang orang tua memperhatikan pendidikan aqidah dan karakter pada anak, yang sesungguhnya akan menjadi benteng dalam kehidupan.

Tersangka utama mengarah pada kesalahan anak, bukan pada pola asuh yang diberikan. Kesadaran orang tua yang tidak hidup pada masalah tersebut, menjadikan anak sebuah korban, sehingga anak sering mengalami frustasi dalam kondisi atau masalah yang dihadapi.

Hasrat yang yang tumbuh di dada pemuda-pemudi, memiliki gairah yang sangat besar. Keinginan-keinginan untuk mendapatkan banyak hal, melakukan banyak hal serta rasa ingin tahu segala sesuatu merupakan hasrat kebebasan yang dimiliki.

Hasrat ingin membangkitkan kebebasan, jika tidak memiliki bekal logika yang benar akan membuat mereka tidak terkendali dan memberontak pada benteng kebebasan manusia itu sendiri. Mencari kebahagiaan menjadikan mereka tersesat dan terperangkap pada penjara budak kesemuan.

Penulis: Muhammad.Rajab.A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!